Saturday, 16 July 2011

My 23rd years old.

I'm getting old and old. Wow. Now i'm 23rd years old. Thanks to mybeloved sister Jilly G. Sompie for gifting me with a loveable surprise. You're the best organizer for my birthday party. I'll never forget it.

My best gift for this birthday is i live in together with the people in Merapi. That's a cool moment. I love the village, their fresh water, and their smiling face. The food have a very best taste. Eventhough i'm sad because the street and almost the houses are damaged because of Merapi's eruption. Pray 'n help them for that!

(^_^)


Suatu hari, seorang anak kecil sedang bermain-main dengan sebuah vas bunga yang sangat mahal. Ia memasukkan tanggannya ke dalam vas bunga dan ..ops.. tidak dapat menariknya keluar kembali. Ia mulai menangis dan menarik perhatian ayahnya. Sang ayah mencoba membantu sekuat tenaga menarik tangan anaknya dari vas bunga, namun gagal. Setelah beberapa kali mencoba dan gagal, akhirnya mereka berpikir untuk memecahkan saja vas bunga mahal itu. Tapi tiba-tiba, sang ayah mendapat ide, "Nah begini saja anakku, kita coba sekali lagi. Lepaskan genggaman tanganmu yang ada di dalam vas itu. Luruskan telapak tanganmu seperti ini, " kata sang ayah sambil menunjukkan telapak tangannya. "Lalu ..hopla..tariklah keluar."

Mendengar itu si anak malah merengek yang membuat sang ayah keheranan. Katanya, "Nggak bisa yah! Aku nggak bisa melepaskan genggamanku karena nanti uang receh yang aku pegang ini bisa terlepas lagi."

Kenapa kita menutup mata ketika kita tidur? ketika kita menangis? ketika kita membayangkan? Ini karena hal terindah di dunia tidak terlihat.

Ketika kita menemukan seseorang yang keunikannya sejalan dengan kita, kita bergabung dengannya dan jatuh ke dalam suatu keanehan serupa yang dinamakan Cinta.

Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan, seseorang yang tidak ingin kita tinggalkan, tapi melepaskan bukan akhir dari dunia, melainkan awal suatu kehidupan baru, kebahagiaan ada untuk mereka yang menangis, mereka yang tersakiti, mereka yang telah dan tengah mencari, dan mereka yang telah mencoba.

Karena merekalah yang bisa menghargai betapa pentingnya orang yang
telah menyentuh kehidupan mereka.

Cinta yang sebenarnya adalah ketika kamu menitikkan air mata dan masih peduli terhadapnya, adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu masih menunggunya dengan setia.

Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih bisa tersenyum dan berkata 'aku turut berbahagia untukmu'.

Apabila cinta tidak bertemu, bebaskan dirimu, biarkan hatimu kembali ke alam bebas lagi, kau mungkin menyadari, bahwa kamu menemukan cinta dan kehilangannya, tapi ketika cinta itu mati kamu tidak perlu mati bersama cinta itu.

Orang yang bahagia bukanlah mereka yang selalu mendapatkan keinginannya, melainkan mereka yang tetap bangkit ketika mereka jatuh, entah bagaimana dalam perjalanan kehidupan, kamu belajar lebih banyak tentang dirimu sendiri dan menyadari bahwa penyesalan tidak seharusnya ada, cintamu akan tetap dihatinya, sebagai penghargaan abadi atas pilihan2 hidup yang telah kau buat.

Teman sejati, mengerti ketika kamu berkata 'aku lupa..' Menunggu selamanya ketika kamu berkata 'tunggu sebentar'. Tetap tinggal ketika kamu berkata 'tinggalkan aku sendiri'.

Membuka pintu meski kamu belum mengetuk dan belum berkata 'bolehkah saya masuk?' Mencintai juga bukanlah bagaimana kamu melupakan dia bila ia berbuat kesalahan, melainkan bagaimana kamu memaafkan.

Bukanlah bagaimana kamu mendengarkan, melainkan bagaimana kamu mengerti, bukanlah apa yang kamu lihat, melainkan apa yang kamu rasa, bukanlah bagaimana kamu melepaskan, melainkan bagaimana kamu bertahan.

Lebih menyakitkan menangis dalam hati dari pada menangis tersedu atau mengadu, air mata yang keluar dapat dihapus, sementara air mata yang tersembunyi menggoreskan luka dihatimu yang tidak akan pernah hilang.

Sayang dalam cinta, kita sangat jarang peduli, tapi ketika cinta itu tulus, meskipun kau acuhkan, cinta tetap mulia, dan kamu seharusnya berbahagia, hatimu dapat mencintai seseorang yang kau sayang.

Mungkin akan tiba saatnya dimana kamu harus berhenti mencintai seseorang, bukan karena orang itu berhenti mencintai kita melainkan karena kita menyadari bahwa orang itu akan lebih berbahagia apabila kita melepaskannya.

Namun bila pun kau benar2 mencintai seseorang, jangan lepaskan dia, bila dia tak membalasmu, barangkali dia tengah ragu dan mencari, jangan percaya bahwa melepaskan berarti kamu benar2 mencintai tanpa suatu balasan, mengapa tak berjuang demi cintamu? mungkin itulah cinta sejatimu.

Kadang kala, orang yang paling mencintaimu adalah orang yang tak pernah menyatakan cinta padamu, karena kau takut berpaling dan memberi jarak, dan bila ia suatu saat pergi, kau akan menyadari ia adalah cinta yang tidak kamu sadari.

Maka mengapa kau tak mengungkapkan cintamu, bila kau memang mencintainya, meskipun kau tak tahu apakah cinta itu ada juga padanya?

Pojok Renungan :
Senyum dong! Bukankah banyak dari kita yang bertingkah seperti anak
kecil tadi. Begitu sibuk menggenggam sesuatu yang tak begitu berharga
namun rela mengorbankan kebebasan kita. Sekiranya kita dapat segera
melepaskan hal-hal sepele dari hati dan fikiran kita, Akan
terbentanglah jalan yang selama ini tertutup dimana kedamaian menjadi
istananya dan kesuksesan bertahta disana.

From my beloved Sister Ratna Indah Susanti

Wednesday, 8 June 2011

Jangan Gelisah Hatimu!



"Janganlah Gelisah hatimu. Percayalah kepada Allah. Percayalah kepada-Ku juga." Yoh 14:1 Tuhan Yesus tahu dan mengerti setiap permasalahan yang dihadapi manusia. Yang perlu kita lakukan hanyalah menyerahkan segalanya kepada-Nya. Lakukan bagian kita dan biarkan Dia yang melakukan sisanya. It's simple. Punya hubungan yang intim dengan-Nya layak sepasang kekasih. Jika yang seorang punya masalah otomatis pasangannya juga tahu dan memikul beban itu bersama-sama. Sama halnya dengan kita. Tuhan tidak menginginkan hanya sekedar akrab. Tapi intim. Terbuka dan tak punya rahasia pribadi lagi. Sudahkan kita terbuka dengan-Nya dan tidak hanya mengandalkan kekuatan kita?

Mengapa kita perlu berserah pada-Nya, tidak perlu kuatir dan percaya pada-Nya?
Dialah Pencipta kita. Dia yang menciptakan kita dan menghidupi kita. Semua karena kehendak-Nya kita ada dan hidup. [Hal ini yang terus aku ingatkan ketika ada sesama yang masih mempertanyakan keberadaan Tuhan dan menyangkal Penciptanya]. Kita sedang diberi tugas di bumi. Oleh karenanya jika kita menghadapi masalah, rintangan dalam hidup, itu juga menjadi masalah-Nya. Makanya kita menghadapi masalah bersama-sama. Menghadapi kehidupan bersama Tuhan. Kita tidak sendiri. Kita punya Tuhan, Pencipta dan Sumber Kehidupan. Jika kita hidup dengan mengabaikan maksud kita di ciptakan, we are useless. Hidup kita sia-sia di hadapan Tuhan. Padahal Dia sudah membentuk kita sesuai rupa dan gambar-Nya. Kita di beri roh hidup dan diperhatikan bagai biji mata-Nya. Kita dipermuliakan jauh diatas para makhluk lainnya. Hanya manusia yang benar-benar di perhitungkan oleh-Nya.

Masih ada yang mengelak juga. "wong kita ga minta dilahirkan kok, lalu kenapa kita harus hidup?" ini ciri orang yang ga nyadar-nyadar. Belum bangun dari tidur. Semua manusia tidak minta diciptakan dan dilahirkan. Allah yang menghendakinya. Maka hidup kita pun biarkan Dia yang berkehendak atas kita. Semua dari Allah dan dikembalikan untuk Allah. Itulah hakekat hidup kita. Menerima sepenuhnya kehidupan itu di dalam Dia yang menjadikan kita ada. Sederhana, layaknya anak dengan orangtua. Bahkan lebih dari itu.
Belajarlah dari sejarah. Manusia menyangkal hakekat penciptaan. Berontak dan mengandalkan kekuatan sendiri. Mengingkari adanya Tuhan dan mau mengalahkan kekuasaan Tuhan. Takabur. Mereka semua dimusnahkan. Akan tetapi hanya karena 1-2 orang yang benar diantara kaum pemberontak itu Tuhan mengampuni mereka. Luar biasa. Dia memperhitungkan 1 hati penyembah diantara beribu hati yang bebal. Betapa maha mengampuni Pribadi di atas sana.

Yang Dia mau kita bersekutu, menjadi imam, dan pelayan Tuhan (Yesaya 61). Bersekutu yaitu menyembah Dia, punya hubungan yang intim dengan-Nya. Punya ruang pribadi dengan-Nya. Bicara dari hati ke hati. Curhat. Dia memeluk dan mendengarkanmu dan lihat mujizat-Nya dalam hidupmu. Setelah dekat dengan-Nya, jadilah imam minimal untuk diri sendiri. Menjadi pemimpin atas hidupmu, orang-orang disekitarmu atau lingkungan yang lebih besar lagi. Imam di mata Tuhan adalah yang mencontoh teladan-Nya dan kita menjadi contoh bagi orang lain. Do like Jesus do. Menjadi pelayan Tuhan di tuntut yang lebih besar lagi. Melayani sesama. Memenuhi kebutuhan sesama sesuai profesi dan kemampuan kita. Jangan bilang kita miskin dan lemah. karena dalam Tuhan kita dijadikan kaya dan kuat. Dia yang empunya bumi dan sorga. Dia pencipta semesta. Carilah dahulu kerajaan Allah maka SEMUANYA akan ditambahkan kepadamu. Belajar dari kisah para nabi yang Tuhan sertai langkah mereka ketika mereka memprioritaskan Tuhan dalam kehidupannya.

Jika kita baca Yoh 14:2-3, disitu dijelaskan tentang kenaikan Tuhan Yesus ke sorga untuk mempersiapkan tempat duduk bagi kita di sorga. Indah bukan? Yesus ke sorga hanya untuk kita. Repot-repot buat menyediakan rumah besar untuk kita duduk di sebelah kanan Bapa SELAMANYA. Siapa yang ga rindu untuk ke tempat itu? di bumi kita hanya sementara. Untuk apa nabung duit milyaran rupiah, beli mobil banyak-banyak, operasi plastik untuk perbaiki wajah, dan mencari hikmat dunia. Tuhan mau kita punya hati dan hikmat sorgawi agar kelak layak bersanding dengan-Nya di tahta sorga. Tuhan mau di dunia kita punya hubungan yang karib dengan-Nya agar nanti Dia mengenal kita ketika menghakimi manusia. Karena tidak semua orang yang berteriak memanggil Tuhan yang akan diselamatkan tapi mereka yang mengenal Dia selama hidupnya. Hanya mengenal dan bergaul akrab dengan-Nya. Itu yang Dia mau.


Tentu semua itu harus dibayar dengan harga yang mahal. Ketika kita memutuskan untuk bersekutu, menjadi imam dan pelayannya, maka kita juga harus siap untuk DITOLAK oleh dunia. Di mata dunia kita tidak waras karena hidup tidak mengikuti nafsu kedagingan. Tapi kita dipimpin oleh Roh Tuhan. Tidak apa-apa teman. Tuhan mau membayar semua itu kelak. Membayar hinaan, ejekan, dan penolakan yang kita terima karena bersaksi demi nama-Nya. Saya pun ketika menulis blog yang bertuliskan khotbah seperti ini pasti hanya dipandang sebelah mata dan mungkin ada yang mencibir. Di cap sok rohani. It's ok. itu duniawi dan manusiawi. Saya pun pernah melakukan yang demikian. Tapi saya tetap Pede aja. Tuhan Yesus menerima yang lebih dari itu. Dia dicemooh, diludahi, diberi kesaksian penuh dusta dan palsu. Bukankah saya juga bisa sekuat dan setegar Dia? mendoakan mereka yang mengasihi dan yang membenci saya?
Bagaimana denganmu teman? maukah kita bersama-sama bersekutu di dalam Dia? Tuhan tidak minta iman dan modal yang besar untuk memulai hidup dengan-Nya. Iman sebesar biji sesawi saja sudah terlalu besar bagi-Nya (biji sesawi tuh lebih kecil dari pasir. Biji paling kecil dari semua tanaman berbji). Bayangin lho, betapa Tuhan tuh ga nuntut hal yang luar biasa. Hanya iman seadanya, kepercayaan pada-Nya yang penuh, dan menerima anugrah keselamatan yang sudah di beri. Terlalu enak teman. Dalam hidup sehari-hari Tuhan hanya minta waktu kita disisihkan sedikit untuk-Nya, berkat yang sudah dia kasih beri sepersepuluh saja atau dengan 2 keping perak dari persembahan janda miskin. Tuhan tidak lihat jumlahnya. Dia menilai hatimu. ketulusan dan keikhlasan menyembah Dia. That's all. Bukankah semua manusia punya hati? hanya modal hati saja maka kita sudah bisa beroleh keselamatan kekal.

Sungguh indah kalau sudah bisa menikmati hadirat-Nya. Menikmati persekutuan dengan-Nya. Hanya orang yang mampu memahami hikmat Tuhan yang bisa percaya sepenuhnya kepada Tuhan. Saya pun belum tentu bisa memahami. Oleh karena itu mintalah Roh Tuhan untukmembimbing kita mengerti tentang Dia (John Titaley pada ibadah minggu di GPIB Salatiga). Ya, benar. Saya sendiri belum tentu paham semua. Tapi saya mau belajar dan mau dibimbing Roh Kudus untuk memahami tentang Tuhan dan kekayaan hikmat-Nya.
So, jangan gelisah hatimu ya, ada Tuhan. Semua beres. Yang kita lakukan hanyalah melakukan bagian kita. Berdoa, bersekutu, melakukan semaksimal yang bisa kita lakukan dan biarkan Tuhan melakukan sisanya. Tuhan menyelesaikan bagian yang paling berat yang kita tidak mampu selesaikan.

He blesses u and u blesses others.

Amin
Thanks to Pdt Ade Manuhuttu for his speech at Bethany Church-Salatiga.