Thursday, 24 February 2011

Meniti Akhir dan Awal bermula...




27 November 2010, aku berjalan menyusuri lorong sepi dengan lantai dan dinding yang sama. tidak ada yang berubah selama 4 tahun belakangan. Bangunanmu masih kokoh meski sudah tampak tua. Kamu saksi semua perjalanan panjangku yang kupikir sulit untuk berakhir. Kamu bagian cintaku, masuk ke hatiku, berakar, dan membuatku berteriak gemetaran demi kebaikanmu, agar dindingmu yang kokoh tidak dikotori oleh kenajisan para penentu nasibmu. Aku tahu, kamu tahu semua itu. Tapi sayang kamu tak mampu berucap dan berperkara di depan para hakim meski kamu sangat tahu mana yang benar dan yang salah.

hari ini, entah salah atau benar, aku tak tahu, yang pasti jari-jemariku lelah dan terluka. Kakiku masih terasa kelu, namun aku mau tetap tegap sepertimu. Melewati satu perjuangan besar, mengalahkan diriku sendiri, mengalahkan cintaku padamu, karena sebagaimana aku dilahirkan tanpa memintanya terlebih dahulu begitu pula garisan tangan pertanda perjalanan hidup yang masih terlalu panjang untuk kutapaki. Saatnya untuk meninggalkanmu, cinta lamaku yang sudah mau menjadi saksi hidupku, memberi ruang gerak untuk memahami betapa indah dan luar biasa pemahaman tentang Dia. Terima kasih untuk ruang yang kamu beri.

Bahkan hari ini pun, kamu masih menjadi saksi perjuangan akhirku. Gedung C, begitulah orang-orang menyapamu, tapi bagiku kamu lebih dari sekedar gedung. Kamu hidup. Yah, mungkin aku cukup kacau menyebutmu seperti itu. Tentunya artinya tidak seharafiah orang bernafas, makan, dan beraktivitas. Maksudku, kamu ibarat benda hidup yang ikut berinteraksi dengan kami. Ditempatmu aku nyaman dan senang. Sampai-sampai aku tak tega meninggalkanmu. Terakhir kukunjungi kamu masih menawarkan kebaikan yang sama. Serasa ada yang menggelitikku. Aku rindu lembur dan menggila disitu, aku rindu keheningan yang sarat keramahan meski ada yang tak ramah. Aku rindu.

Terlepas dari kerinduanku akan gedung yang selama ini banyak menyingkap keajaiban dunia, kehidupan, dan penelusuran akan karya-Nya, aku pun sadar bahwa semua ini adalah rangkaian akhir dari satu tahapan mahaindah karya-Nya. 4.5 Tahun aku disini, di Gedung C, di UKSW, di Salatiga tanpa saudara tapi tentunya dengan banyak teman dan aku sehat walafiat tak pernah masuk rumah sakit, tapi malah tambah gendut. Dengan uang pas-pasan, baju seadanya, berbekal pernak-pernik ijazah dkk, aku berjiabaku dengan dunia magistrum et scholarium. Dan hari ini 24 Februari 2011 ketika aku iseng membuat CV (Curriculum Vitae), wow... kaget dan tak percaya, aku tidak hanya sekedar kuliah, meski belum seberapa, ada beberapa catatanku juga tentang aktivitas di luar kegiatan kuliah. Artinya apa? betapa luar biasa pekerjaan Tuhan dalam hidupku. Sekali lagi, itu semua bukan karena hebatku, tapi karena ada Kuasa yang mampu melakukan itu semua. Mungkin buat orang lain prestasiku tak seberapa, tak mengapa, bagiku semua itu luar biasa. Aku tak berkekurangan satu apapun itu sudah sangat luar biasa. Jauh dari yang kuharapkan dan kubayangkan, Dia memberiku lebih. Terima Kasih banyak Tuhan.

Akhir yang indah, luar biasa, aku tersenyum, lega sekaligus was-was, karena tahap yang lain harus segera dimulai. Banyak waktu terbuang, aku masih beristirahat mengembalikan energi setelah terkuras mengerjakan skripsi siang dan malam. Kini, tinggal menunggu kedatangan mama, papa, dan tante untuk merayakan kelulusanku dan menata lagi kehidupan selanjutnya yang tentunya tempat, waktu, dan porsinya sudah ditetapkan Tuhan. Aku akan membuka hati untuk bekerja di ladang yang baru dengan lebih baik lagi.

Satu hal yang tidak pernah kubayangkan, menjelang kelulusanku, di awal pengerjaan skripsiku, Tuhan memberikanku anugrah yang sangat indah yang cukup mengubah hidupku. Seseorang yang tampan dan baik hati bahkan sangat baik buatku. Dia begitu lembut dan luar biasa, sangat mencintaiku dan tak diragukan lagi. Dia mampu membuatku merasa lengkap seperti tak ada lagi yang kuinginkan. Oh betapa indahnya dicintai...

Keindahan dan kesenangan itu harus dibayar mahal. Tentunya hubunganku dengannya tak lepas dari masalah. Dan masalahnya sangat besar dan pelik. Sebesar apa? tentuny masih di bawah kebesaran Tuhan. Aku yakin, aku da dia mampu melewatinya di dalam Tuhan.

Mengakhiri perkuliahan dengan indah, dan mengawali hubungan yang membahagiakan sekaligus pelik. Hanya Tuhan yang tahu jawabannya. Aku akan menunggu waktu yang tepat Dia membisikkan jawaban itu dan apa yang harus kulakukan.

Terima kasih Tuhan.

Begitu juga denganmu kawan, pasti ada anugrah Tuhan di setiap waktu. Pekalah. Pasti Dia juga mengijinkanmu menghadapi masalah. Karena hidup di dunia ini bukanlah demi sebuah kenyamanan. tetapi kita pekerja Allah yang tidak boleh terlelap, harus tetap bekerja, melayani, lewati setiap masalah agar naik level. Tantangan yang berat berarti ujianmu semakin tinggi dan hidupmu semakin berkualitas. Tidak ada yang lebih baik dari siapapun dan tidak ada yang lebih buruk dari siapapun juga. Semua diberi berkat yang sama dan merata. Syukuri!

Tuhan itu baik. Tuhan itu ada dan nyata. Awali dan akhiri segala sesuatu bersama Dia pasti INDAH :)


Saturday, 1 January 2011

from 2010 to 2011...


teringat khotbah di gereja yang dibawakan oleh Pak Pdt. John Titaley : "pergantian tahun itu hal yang biasa yang dilakukan oleh alam..." yah, kalo saya pikir-pikir dari sudut pandang secara kosmik, apanya yang spesial? Bumi berotasi itu biasa, planet-planet yang mengitari tata surya memang sudah diatur seperti itu dari sononya. Hari berganti, bulan berganti, semua mengikuti penanggalan di kalender, dan itu pasti. semuanya rutin dan biasa saja, justru yang aneh kalau kejadian yang biasa itu tidak terjadi. Misalnya bumi berhenti berotasi.

Lalu mengapa saya harus deg-degan, sibuk, dan gelisah menanti tahun baru layaknya kegelisahan menunggu kedatangan tamu istimewa.
Tetapi khotbah itu tidak selesai disitu saja, beliau pun menambahkan kalimatnya : "tetapi secara iman kristen, meski pergantian itu tahun itu hal yang lumrah secara alami, bagi kita, itu bukan hal yang biasa-biasa saja. setahun berlalu itu berarti anugrah penyertaan Tuhan yang luar biasa selama 365 hari dan tibanya tahun yang baru sama halnya meyakini berkat yang luar biasa dalam kehidupan kita"

Dan refleksi diri pun dimulai dari malam itu...

Khotbah di gereja pada malam pergantian tahun mengawali perenungkan pribadiku untuk menutup tahun dan menyambut tahun baru. Bernostalgia mulai dari awal tahun, bulan januari, hingga hari terakhir di bulan desember. Meski semua tidak terekam, tapi potongan besarnya tentu masih melekat di memori.
Di awal bulan januari, saya masih di menado, menghabiskan sisa liburan di Pulau Lihaga dan Talise menikmati panorama pantai tentunya indah dan menawan. Keperawanan pulau Lihaga membuatku tak bisa berkomentar banyak, hanya berdecak kagum, biru lautnya luar biasa, dan kecantikan pasir dan pemandangan pantainya bukanlah pemandangan biasa yang mudah dijumpai di pantai lain. Lihaga yang belum terjamah namun mulai diendus untuk dimiliki secara pribadi. saya pun tertunduk sembari berucap : "Terima Kasih Tuhan atas alam-Mu yang Kau titipkan bagi kami".

Meski rumah saya tak jauh dari pulau itu, tapi selama 21 Tahun baru pertama kali saya menginjakkan kaki di Pulau itu, tak mengapa walau terlambat menyadari keindahannya. Sepulangnya dari Lihaga, saya kembali menyusuri hutan mangrove berperahu bersama keluarga dan menikmati ikan tangkapan di sebuah rumah kecil di atas laut. Sungguh, belum pernah saya menikmati suasana seindah ini dengan cara yang sangat sederhana. Waktu liburan usai dan saya harus kembali ke Salatiga. Walau sedih meninggalkan kampung halaman tapi ada kegembiraan karena akan menghirup udara kota kecil yang juga telah merebut hatiku. Kembali di Salatiga, di kamar kos yang di daerah Cemara yang sejuk dan menikmati kicau burung dari balik jendela. Suasana yang tak kalah indah seperti di Menado. saya kembali disibukkan dengan aktivitas sebagai seorang mahasiswa dan salah satu Pengurus Senat Mahasiswa Universitas.

Pada bulan Februari saya berangkat ke Jakarta/Cibubur untuk melaksanakan kerja praktek sambil mengurus kegiatan yang akan di selenggarakan di kampus oleh Senat.
Cibubur merupakan Kota transit dari Jakarta ke Bogor. Tidak sebesar jakarta namun cukup ramai dan padat. Saya dan sahabat saya tinggal di wisma tamu Perusahaan (Dorm). Disana kita juga bertemu dengan keluarga baru, ada yang hangat dan ramah menyapa namun ada yang dingin dan kaku. Mengenal dunia industri secara langsung, hidup di tengah kebisingan kota, membuatku rindu suasana pantai di dekat rumah, dan tenangnya daerah cemara tempat saya kos di salatiga. Meskipun begitu, saya tetap mencoba menikmati daerah Cibubur yang masih asing itu. Selama sebulan disana dan saya kembali lagi ke salatiga. Kesibukan di Senat menyedot waktuku untuk mengurus Laporan Kerja Praktek dan Skripsi. banyak kendala yang dihadapi, sampai-sampai saya harus terlibat konflik sana-sini termasuk dengan para petinggi kampus demi terlaksananya acara. Kesehatan saya menurun, padahal saya butuh tenaga ekstra untuk mensupport teman-teman panitia dan juga membantu adik-adik angkatan yang terlibat masalah di fakultas. pertengahan tahun saya terlibat beberapa konflik yang serius. Saat kondisi tertekan di kepanitiaan, saya juga harus dikhawatirkan karena mama sedang dalam perjalanan ke salatiga untuk mengunjungi saya dan papa juga melakukan perjalanan dinas ke jakarta dan bali. saya khawatir kalau perjalanan mereka tidak lancar dan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Pada tanggal 10 juli, tepat ulang tahun saya ke-22, saya sakit. Akan tetapi puji Tuhan, setelahnya, kegiatan di bawah bidang saya terlaksana semua meski tersendat-sendat yang jauh dari target. Bagi kami, kepuasan yang kami peroleh karena kami berjuang maksimal menghadapi berbagai kendala yang mencoba menghambat dan menggagalkan kegiatan kami. berkat berbagai masalah yang saya dan teman-teman hadapi di Senat, saya merasa punya keluarga baru, kebersamaan saya dan teman-teman semakin kuat dan kita saling mendukung satu sama lain. Selain itu, saya juga memiliki 'keluarga besar/big family' di Salatiga yang selalu berbagi keceriaan bersama. Hampir setiap weekend kita habiskan untuk bersenang-senang. Hal itu sangat membangkitkan semangat bagi saya. Mama dan Oma bisa kembali ke Menado dengan selamat, dan papa juga bisa melakukan Tour Dinas dengan lancar. Badai besar telah berlalu, saatnya mengayuh perahu dengan agak ringan. Saya boleh bernapas lega dan berucap : "Penyertaan-Mu luar biasa, Tuhan".

Bulan Agustus, saya memutuskan mengganti topik skripsi dan bulan september proposal saya diterima dalam sebuah seminar. Salah seorang dosen bersedia membimbing saya, dan ada dua orang teman yang siap kerja tim untuk menyelesaikan skripsi bersama. Masa kerja di Senat berakhir dan sekarang saya harus bergelut dengan skripsi yang sebelumnya tidak disentuh sama sekali.


Bulan Oktober sambil mengerjakan penelitian skripsi, saya mengalami pergumulan pribadi dengan pasangan hidup. entah kenapa saya terpikir untuk berpacaran padahal saya tidak suka dengan yang namanya pacaran. Dan memang belum ada yang menunjukkan kedekatan yang 'lain' dengan saya. seperti biasa, pada bulan Oktober saya mengikuti kegiatan Festival Mata Air yang diadakan tiap tahunnya. Tapi kali ini dengan konsep yang agak tertutup dari publik saya terlibat jadi volunteer pada gathering tersebut. Di situ saya mengalami perjumpaan dengan seseorang yang sekarang spesial dalam hidup saya.


Dan akhirnya pada bulan november-desember, saya masih bergelut dengan skripsi, menyisakan waktu untuk para sahabat, teman2 dan kekasih hati. Akhir tahun yang indah, yang Tuhan anugrahkan. Semua di luar dugaan dan jangkauan saya. Dari situ saya bisa melihat Rencana-Nya yang sudah ditetapkan untuk saya. Dia menguntai semua kisah itu menurut tahapan waktu-Nya. Meski kalender yang terpajang di kamar saya tidak berubah, tetap berisi tanggal dan hari yang sama, tapi potret diri saya di awal dan akhir tahun tentu sama sekali berbeda. kegagalan menyelesaikan studi di tahun ini, konflik dengan fakultas, kegagalan2 kecil dan besar menjadi pengurus Senat, setiap kesalahan/gagal menjadi seorang teman dan sahabat, belum maksimal sebagai seorang anak bagi mama, papa, dan seorang Kakak bagi adik-adik, semua itu adalah pelajaran berharga yang mendewasakanku.
Dan yang paling istimewa Dia mengajariku cara mengasihi lewat seseorang yang sudah dihadirkan dalam hidupku. saat aku pernah terluka karena beberapa orang yang mengecewakanku, dan tak mau lagi 'jatuh cinta' dia justru memberiku yang sebaliknya. Cinta itu berkat dan anugrah jika kita menerima dan memberinya dengan tulus. Terima kasih Tuhan atas penyertaan-Mu yang luar biasa di tahun 2010. Rencana-Mu sudah berlaku dalam hidupku, dan ajarku untuk mengerti dan mengikuti kehendak-Mu. Jika aku berencana, biarlah Tuhan yang menentukan.

Selamat datang 2011,
mari selesaikan bagian yang tertunda, mari jadi pribadi yang lebih matang. tunggu kejutan-Nya di setiap hari. Dan yang paling penting dari semua itu, hidupku bukan ditentukan oleh diriku, tapi Tuhan yang menentukan. Jalin hubungan vertikal-horizontal yang baik dengan Tuhan. jadilah berkat, bukan batu sandungan. jangan angkuh, sombong, dan sok tahu. Tapi jadilah pribadi yang rendah hati, penuh pengharapan, iman, dan kasih. Hidupmu adalah kitab terbuka yang dibaca oleh sesamamu. Tuhan Yesus memberkati-Mu dan kamu tak akan berkekurangan suatu apa pun. Amin. what's your wishes on this following year?

Friday, 3 December 2010


Mengerti berarti memaafkan...

Memaafkan berarti memberikan kesempatan...


Memberi kesempatan berarti memperbaiki kesalahan...


tetapi kesempatan memperbaiki kesalahan dapat disalahartikan...


dan dimaknai sebagai kesempatan untuk mengulangi kesalahan yang sama...


mengulangi kesalahan yang berarti kebiasaan...


so,
mengerti berarti memaafkan, memberi kesempatan,

dan menerima kebiasaan itu,
entah buruk ataupun baik...

dengan mengerti, kita bisa membantu orang memperbaiki kesalahan dan menjadi lebih baik.

Dengan mengerti pula, kita memberi kesempatan

dan memberi peluang diulanginya
kesalahan yang sama...

dan kita tetap kompromi dengan kesalahan itu...


atau selalu ada kesempatan untuk setiap kesalahan agar bisa diperbaiki...

seperti Tuhan Yesus mengajarkan untuk mengampuni sebanyak 77x7 kali???

selalu punya waktu kapan saja ketika ada yang mengaku bersalah, meminta maaf,

dan selalu mengampuni dan memaafkan???