Saturday, 1 January 2011

from 2010 to 2011...


teringat khotbah di gereja yang dibawakan oleh Pak Pdt. John Titaley : "pergantian tahun itu hal yang biasa yang dilakukan oleh alam..." yah, kalo saya pikir-pikir dari sudut pandang secara kosmik, apanya yang spesial? Bumi berotasi itu biasa, planet-planet yang mengitari tata surya memang sudah diatur seperti itu dari sononya. Hari berganti, bulan berganti, semua mengikuti penanggalan di kalender, dan itu pasti. semuanya rutin dan biasa saja, justru yang aneh kalau kejadian yang biasa itu tidak terjadi. Misalnya bumi berhenti berotasi.

Lalu mengapa saya harus deg-degan, sibuk, dan gelisah menanti tahun baru layaknya kegelisahan menunggu kedatangan tamu istimewa.
Tetapi khotbah itu tidak selesai disitu saja, beliau pun menambahkan kalimatnya : "tetapi secara iman kristen, meski pergantian itu tahun itu hal yang lumrah secara alami, bagi kita, itu bukan hal yang biasa-biasa saja. setahun berlalu itu berarti anugrah penyertaan Tuhan yang luar biasa selama 365 hari dan tibanya tahun yang baru sama halnya meyakini berkat yang luar biasa dalam kehidupan kita"

Dan refleksi diri pun dimulai dari malam itu...

Khotbah di gereja pada malam pergantian tahun mengawali perenungkan pribadiku untuk menutup tahun dan menyambut tahun baru. Bernostalgia mulai dari awal tahun, bulan januari, hingga hari terakhir di bulan desember. Meski semua tidak terekam, tapi potongan besarnya tentu masih melekat di memori.
Di awal bulan januari, saya masih di menado, menghabiskan sisa liburan di Pulau Lihaga dan Talise menikmati panorama pantai tentunya indah dan menawan. Keperawanan pulau Lihaga membuatku tak bisa berkomentar banyak, hanya berdecak kagum, biru lautnya luar biasa, dan kecantikan pasir dan pemandangan pantainya bukanlah pemandangan biasa yang mudah dijumpai di pantai lain. Lihaga yang belum terjamah namun mulai diendus untuk dimiliki secara pribadi. saya pun tertunduk sembari berucap : "Terima Kasih Tuhan atas alam-Mu yang Kau titipkan bagi kami".

Meski rumah saya tak jauh dari pulau itu, tapi selama 21 Tahun baru pertama kali saya menginjakkan kaki di Pulau itu, tak mengapa walau terlambat menyadari keindahannya. Sepulangnya dari Lihaga, saya kembali menyusuri hutan mangrove berperahu bersama keluarga dan menikmati ikan tangkapan di sebuah rumah kecil di atas laut. Sungguh, belum pernah saya menikmati suasana seindah ini dengan cara yang sangat sederhana. Waktu liburan usai dan saya harus kembali ke Salatiga. Walau sedih meninggalkan kampung halaman tapi ada kegembiraan karena akan menghirup udara kota kecil yang juga telah merebut hatiku. Kembali di Salatiga, di kamar kos yang di daerah Cemara yang sejuk dan menikmati kicau burung dari balik jendela. Suasana yang tak kalah indah seperti di Menado. saya kembali disibukkan dengan aktivitas sebagai seorang mahasiswa dan salah satu Pengurus Senat Mahasiswa Universitas.

Pada bulan Februari saya berangkat ke Jakarta/Cibubur untuk melaksanakan kerja praktek sambil mengurus kegiatan yang akan di selenggarakan di kampus oleh Senat.
Cibubur merupakan Kota transit dari Jakarta ke Bogor. Tidak sebesar jakarta namun cukup ramai dan padat. Saya dan sahabat saya tinggal di wisma tamu Perusahaan (Dorm). Disana kita juga bertemu dengan keluarga baru, ada yang hangat dan ramah menyapa namun ada yang dingin dan kaku. Mengenal dunia industri secara langsung, hidup di tengah kebisingan kota, membuatku rindu suasana pantai di dekat rumah, dan tenangnya daerah cemara tempat saya kos di salatiga. Meskipun begitu, saya tetap mencoba menikmati daerah Cibubur yang masih asing itu. Selama sebulan disana dan saya kembali lagi ke salatiga. Kesibukan di Senat menyedot waktuku untuk mengurus Laporan Kerja Praktek dan Skripsi. banyak kendala yang dihadapi, sampai-sampai saya harus terlibat konflik sana-sini termasuk dengan para petinggi kampus demi terlaksananya acara. Kesehatan saya menurun, padahal saya butuh tenaga ekstra untuk mensupport teman-teman panitia dan juga membantu adik-adik angkatan yang terlibat masalah di fakultas. pertengahan tahun saya terlibat beberapa konflik yang serius. Saat kondisi tertekan di kepanitiaan, saya juga harus dikhawatirkan karena mama sedang dalam perjalanan ke salatiga untuk mengunjungi saya dan papa juga melakukan perjalanan dinas ke jakarta dan bali. saya khawatir kalau perjalanan mereka tidak lancar dan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Pada tanggal 10 juli, tepat ulang tahun saya ke-22, saya sakit. Akan tetapi puji Tuhan, setelahnya, kegiatan di bawah bidang saya terlaksana semua meski tersendat-sendat yang jauh dari target. Bagi kami, kepuasan yang kami peroleh karena kami berjuang maksimal menghadapi berbagai kendala yang mencoba menghambat dan menggagalkan kegiatan kami. berkat berbagai masalah yang saya dan teman-teman hadapi di Senat, saya merasa punya keluarga baru, kebersamaan saya dan teman-teman semakin kuat dan kita saling mendukung satu sama lain. Selain itu, saya juga memiliki 'keluarga besar/big family' di Salatiga yang selalu berbagi keceriaan bersama. Hampir setiap weekend kita habiskan untuk bersenang-senang. Hal itu sangat membangkitkan semangat bagi saya. Mama dan Oma bisa kembali ke Menado dengan selamat, dan papa juga bisa melakukan Tour Dinas dengan lancar. Badai besar telah berlalu, saatnya mengayuh perahu dengan agak ringan. Saya boleh bernapas lega dan berucap : "Penyertaan-Mu luar biasa, Tuhan".

Bulan Agustus, saya memutuskan mengganti topik skripsi dan bulan september proposal saya diterima dalam sebuah seminar. Salah seorang dosen bersedia membimbing saya, dan ada dua orang teman yang siap kerja tim untuk menyelesaikan skripsi bersama. Masa kerja di Senat berakhir dan sekarang saya harus bergelut dengan skripsi yang sebelumnya tidak disentuh sama sekali.


Bulan Oktober sambil mengerjakan penelitian skripsi, saya mengalami pergumulan pribadi dengan pasangan hidup. entah kenapa saya terpikir untuk berpacaran padahal saya tidak suka dengan yang namanya pacaran. Dan memang belum ada yang menunjukkan kedekatan yang 'lain' dengan saya. seperti biasa, pada bulan Oktober saya mengikuti kegiatan Festival Mata Air yang diadakan tiap tahunnya. Tapi kali ini dengan konsep yang agak tertutup dari publik saya terlibat jadi volunteer pada gathering tersebut. Di situ saya mengalami perjumpaan dengan seseorang yang sekarang spesial dalam hidup saya.


Dan akhirnya pada bulan november-desember, saya masih bergelut dengan skripsi, menyisakan waktu untuk para sahabat, teman2 dan kekasih hati. Akhir tahun yang indah, yang Tuhan anugrahkan. Semua di luar dugaan dan jangkauan saya. Dari situ saya bisa melihat Rencana-Nya yang sudah ditetapkan untuk saya. Dia menguntai semua kisah itu menurut tahapan waktu-Nya. Meski kalender yang terpajang di kamar saya tidak berubah, tetap berisi tanggal dan hari yang sama, tapi potret diri saya di awal dan akhir tahun tentu sama sekali berbeda. kegagalan menyelesaikan studi di tahun ini, konflik dengan fakultas, kegagalan2 kecil dan besar menjadi pengurus Senat, setiap kesalahan/gagal menjadi seorang teman dan sahabat, belum maksimal sebagai seorang anak bagi mama, papa, dan seorang Kakak bagi adik-adik, semua itu adalah pelajaran berharga yang mendewasakanku.
Dan yang paling istimewa Dia mengajariku cara mengasihi lewat seseorang yang sudah dihadirkan dalam hidupku. saat aku pernah terluka karena beberapa orang yang mengecewakanku, dan tak mau lagi 'jatuh cinta' dia justru memberiku yang sebaliknya. Cinta itu berkat dan anugrah jika kita menerima dan memberinya dengan tulus. Terima kasih Tuhan atas penyertaan-Mu yang luar biasa di tahun 2010. Rencana-Mu sudah berlaku dalam hidupku, dan ajarku untuk mengerti dan mengikuti kehendak-Mu. Jika aku berencana, biarlah Tuhan yang menentukan.

Selamat datang 2011,
mari selesaikan bagian yang tertunda, mari jadi pribadi yang lebih matang. tunggu kejutan-Nya di setiap hari. Dan yang paling penting dari semua itu, hidupku bukan ditentukan oleh diriku, tapi Tuhan yang menentukan. Jalin hubungan vertikal-horizontal yang baik dengan Tuhan. jadilah berkat, bukan batu sandungan. jangan angkuh, sombong, dan sok tahu. Tapi jadilah pribadi yang rendah hati, penuh pengharapan, iman, dan kasih. Hidupmu adalah kitab terbuka yang dibaca oleh sesamamu. Tuhan Yesus memberkati-Mu dan kamu tak akan berkekurangan suatu apa pun. Amin. what's your wishes on this following year?

Friday, 3 December 2010


Mengerti berarti memaafkan...

Memaafkan berarti memberikan kesempatan...


Memberi kesempatan berarti memperbaiki kesalahan...


tetapi kesempatan memperbaiki kesalahan dapat disalahartikan...


dan dimaknai sebagai kesempatan untuk mengulangi kesalahan yang sama...


mengulangi kesalahan yang berarti kebiasaan...


so,
mengerti berarti memaafkan, memberi kesempatan,

dan menerima kebiasaan itu,
entah buruk ataupun baik...

dengan mengerti, kita bisa membantu orang memperbaiki kesalahan dan menjadi lebih baik.

Dengan mengerti pula, kita memberi kesempatan

dan memberi peluang diulanginya
kesalahan yang sama...

dan kita tetap kompromi dengan kesalahan itu...


atau selalu ada kesempatan untuk setiap kesalahan agar bisa diperbaiki...

seperti Tuhan Yesus mengajarkan untuk mengampuni sebanyak 77x7 kali???

selalu punya waktu kapan saja ketika ada yang mengaku bersalah, meminta maaf,

dan selalu mengampuni dan memaafkan???

Saturday, 27 November 2010

On My Own Way and Let God Smile :)

On my own way...

"Lelah meniti kepuasan diri, tiada terasa ku telah pergi meninggalkan Engkau sendiri..."

Penggalan lagu yang cukup membuatku tertunduk karena merasa benar adanya seperti yang tertulis pada lirik lagu. Sekian lama aku meniti jalanku sendiri, tanpa peduli orang-orangku yang disampingku. Bagiku mereka ada saat kubutuhkan dan saat tak kubutuhkan, aku tak peduli keberadaan mereka. Jahat bukan? dan aku tak khawatir, karena pasti mereka membutuhkanku dan pasti akan selalu ada orang-orang yang selalu siap membantuku. so, why so worries? there are so many man in this world, too possible for me for not to be alone. picik, egois, dan tega, mungkin itu lontaran yang cukup berat buatku. tapi bukan tanpa alasan aku menjadi apatis seperti itu.

Kepergian orang-orang terdekat tanpa kabar dan tanpa pamit cukup membuatku 'kebal' akan pahitnya hidup sendiri padahal aku sangat membutuhkan mereka. Janji yang tak urung ditepati, kebersamaan yang semu, ikrar untuk selalu menjagaku, menjamin kehidupanku, semua terasa hambar dan bikin eneg kalo mengingat senyum manis saat mengucapkan kata-kata manis itu. well, aku belajar ikhlas untuk semua itu meski menjadi apatis atau tegar sendiri. semenjak dari kejadian yang cukup pahit itu, terbentuk kebiasaan untuk selalu menyendiri dan kurang percaya pada teman. sulit untuk menerima tawaran persahabatan, penuh curiga, negative thinking, penolakan karena ketakutan-ketakutan kejadian masa lampau yang aka berulang. Hingga datang dan perginya seseorang dalam hidupku kuanggap biasa. itu bukan suatu sikap yang mendadak terbentuk, tapi itu hasil proses yang cukup panjang.

Tak heran orang-orang menamaiku si wanita berhati baja yang sulit nangis dan merasa tak butuh orang lain. kedekatan yang kujalani hanya ritual biasa dan aku merasa tak terlibat secara emosional dengan mereka. bahkan untuk orang yang sudah setiap hari makan dan tidur bersamaku, aku tak terlalu merasakan kedekatan emosional itu. saat mereka bersamaku, aku menikmatinya, tapi saat mereka sedang tak bersamaku, aku lupa akan kedekatan itu. Dan, wow, betapa kejamnya diriku hehehe :)

Merasa berjalan di koridor sendiri tanpa ujung, sesaat mengangguk memberi salam bagi orang kujumpai dan berpapasan dengan orang di lorong sempit itu, mencoba untuk membuka obrolan sejenak dan kemudian pergi melanjutkan perjalanan lagi. Entah sudah beberapa kali aku berpapasan dengan orang-orang, dan banyak yang menahanku untuk tinggal tapi aku tak tertarik. bukan karena mereka tak menarik tapi alasanku satu-satunya, mereka pasti tak akan betah untuk tinggal dengan orang yang tak punya kasih sayang seperti diriku...

selama ini aku menyusuri lorong yang sempit itu, dengan senyuman dan kesedihan. dengan warna tapi juga dalam putih abu-abu. semua klise. yang sesungguhnya terjadi adalah aku berjalan di tempat, mencoba mencari irama langkah yang pas untuk tubuhku berjalan, dan aku tak pernah keluar dari koridor itu. stagnan. aku tetaplah aku yang apatis dan sendiri. tak ada yang bertahan berjalan denganku dari awal hingga akhir, semua memilih jalannya sendiri. ada yang berjalan bersama, ada yang sendiri, dan aku tetap sendiri. sampai kutemukan sesuatu yang menarikku keluar dengan tiba-tiba dan aku menemukan tempat peristirahatan untuk berteduh sejenak dan aku tersadar kalau aku lelah, lelah meniti jalanku sendiri, dan aku tersungkur, di bawah sebuah pohon, yang melindungiku dari sinar mentari yang panas, dan dari lebatnya hujan yang bisa membuatku menggigil kedinginanan, dan aku punya waktu sejenak untuk bercengkerama dengan orang lain yang ikut berteduh di tempat itu dengen sebuah senyuman karena akhirnya penatku hilang :)



And Let God Smile...

Senyuman itu awal sebuah persahabatan. senyuman yang tulus saat kita berikan dalam keadaan tenang. Bukan senyuman cemberut saat kita sedang tergesa-gesa, jiwa letih, hati tak tentu, dan wajah muram karena kita sibuk memikirkan diri sendiri. Senyuman sederhana yang lama pudar dari wajah karena ekspresi jiwa yang sedang bebas, tak berbeban, dan merasa orang lain pantas untuk diberikan yang terbaik dan merekalah yang terbaik diberikan dalam hidup kita, entah siapapun dia, mereka yang sudah ditempatkan disekitar kita, entah kita mengenalnya atau tidak.

setelah aku menemukan jalanku sendiri, saat tanganku dituntun oleh sesuatu yang diluar kuasaku, aku tak merasa sendiri dan aku tak takut terantuk pada batu, karena ada sepasang tangan yang menggenggamku erat dan menunjukan jalur yang aman untuk dilewati. Jalur yang meski terjal dan keras tapi ada tangan yang sanggup menopangku melewati semua itu. saat tangan itu melepaskan genggamannya, aku tahu aku digenggam oleh tangan yang lain yang bisa menggantikan posisi tangan yang lama. itu sebabnya Dia menempatkan orang-orang yang berbeda di setiap belahan tempat dan waktu sesuai jalur yang akan kita lalui.

Dia luar biasa. Penyertaan-Nya sempurna. bahkan saat kita tak mampu menyelami semua itu, Dia tetap membiarkan kita tidak mengerti sampai Dia ijinkan kita mengerti suatu saat. Itulah kesabaran. Disaat kita tak pernah berhenti bertanya hingga kita menemukan jawabannya, disaat kita tak berhenti meminta hingga kita diberi, disaat kita tak berhenti mengetok hingga pintu dibukakan, dan disaat kita berhenti ketika kita tau apa yang kita minta itu salah, dan bukan itu yang kita butuhkan. Itulah kesabaran, tak mengenal putus asa, dan akan selalu menunggu dengan sebuah harapan.

Saat harapan itu ada, kita pasti tersenyum. Lega karena kita selesai dengan sebuah kesabaran, usaha kita menuai hasil, dan semua terjawab sesuai waktu. saat itulah kita mampu meyelami pekerjaan-Nya. mungkin itulah yang aku rasakan. ketika kesabaran itu tidak diartikan sebagai pekerjaan yang membosankan karena menunggu. kita bisa bermain, membaca, menulis, mendengarkan musik, dan online, sambil menunggu. banyak hal yang bisa kita lakukan sambil menunggu, so, kenapa harus berhenti menunggu, dan kenapa harus bosan, kalau menunggu itu adalah aktivitas yang mengasyikkan.

Itu (mungkin) yang dilakukan oleh Dia. saat dia melepaskan kita mengitari labirin waktu dengan tempat dan konsep yang kita tentukan, bahkan saat kita melepaskan genggaman-Nya karena merasa sombong, tegar, dan mampu kalau kita bisa sendiri, maka Dia sebenarnya tidak sedang membiarkan kita sendiri, Dia sedang mempercayai kita untuk digenggam oleh orang lain. Dan Dia tetap menunggu, menunggu hinggaa kita bosan bermain-main, bosan dengan hikmat sendiri dan kebodohan dunia, bosan bertanya-tanya, menebak-nebak, berfilsafat, menduga, dan berusaha menjadi tuhan atas hidup kita dan di dunia ini, Dia sedang menunggu sambil melakukan karya yang lain dan itu mengasyikan, hingga Dia tersenyum puas, karena karya-Nya berhasil dan kita kembali menjemput tangan-Nya untuk menggenggam hidup kita.

Dan pada saat itu, jiwa-jiwa yang penat dilegakan, hati yang gundah disegarkan, wajah yang cemberut dielusnya, karena senyuman-Nya, mengangkat semua masalah kita. bahkan ketika orang lain menganggap masalah itu sangat besar dan tak mampu dilepaskan, kita bisa berkata, itu bukan masalah, itu persoalan yang sudah ada jawabannya. Bukan karena pandang enteng atas masalah yang menimpa, tapi karena sudah ada yang menanggung beban itu. Sudah ada pundak tempat bersandar, sehingga beban kita terasa ringan, dan sudah ada tangan yang menuntun agar kita tidak salah jalan. Dan yang perlu kita lakukan hanyalah, tetap menggenggam tangan itu seperti sesederhana melipat tangan, menutup mata, menundukan kepala, bersimpuh di tempat paling rendah, mengakui bahwa kita bukan siapa-siapa, kita tidak ada apa-apanya. Kenapa begitu? karena tubuh dan nafas kita bukan diciptakan oleh diri kita sendiri dan bahwa ada kekuatan yang luar biasa yang mampu menciptakan itu dan tentunya Dialah yang memiliki kita dan berhak atas kehidupan kita. alasan yang sederhana.
so, maukah kita tersenyum untuk Dia dan buat Dia tersenyum? hanya dengan merendahkan hati, mengakui keberadaan-Nya, dan melakukan segala sesuatu bersama-Nya.

Nothing's bigger than HIM, believe it!